Budaya Curang Saat Ujian

​Budaya curang saat ujian sudah menjadi hal biasa di kalangan pelajar masa kini demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Baik berupa bocoran soal, kunci jawaban, upaya menyontek, pengawas yang curang dan berbagai hal lainnya. Namun faktanya budaya curang selalu dikaitkan dengan siswa yang menyontek, padahal dengan adanya aksi curang lain seperti; bocoran soal, kunci jawaban, kerja sama dan hal lainnya bisa disimpulkan pihak guru dan oknum pengawas ikut terlibat dalam aksi curang tersebut.

Dalam kasus-kasus yang sudah sering terjadi, budaya curang sering kali terjadi dan menjadi perbincangan ‘hangat’ ketika menjelang Ujian Nasional (UN). Namun, hal yang perlu kita tahu lebih dekat adalah budaya curang tak hanya biasa terjadi di Ujian Nasional, tetapi juga di dalam Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Bahkan melakukan aksi curang saat UTS atau UAS lebih mudah dilakukan dari pada saat UN. Mengapa? Karena UTS dan UAS masih berada pada lingkup sekolah masing-masing.

Kalau dipikir-pikir, kenapa ya budaya curang sampai saat ini terus mengakar dengan kuat? Padahal hal tersebut jelas-jelas bukan hal yang patut untuk ditiru. Apakah karena nilai akademis lebih menjamin dibandingkan dengan kejujuran dan sportifitas? Apakah dunia pendidikan hanyalah sekedar media untuk mendapatkan nilai bagus tanpa mementikan pemahaman mengenai ilmu itu sendiri?

Budaya curang ini tidak bisa dikatakan secara umum untuk semua siswa, guru, dan pengawas. Pastinya masih banyak siswa, guru, pengawas yang menginginkan pendidikan yang terorientasi dengan benar demi masa depan anak bangsa. Tapi ternyata budaya curang dalam ujian tidak hanya terjadi di negara kita aja lho Kawan Hero, namun juga terjadi di Negeri Tirai Bambu—China.

Pelajar di China menggunakan alat James Bond untuk menyontek demi mendapatkan nilai yang tinggi. Alat tersebut berupa pulpen dengan kamera tersembunyi yang dapat mengambil gambar dari soal ujian layaknya agen mata-mata ‘007’ James Bond. Setelah itu mereka mengirimkannya lewat rompi atau kaos dalam yang telah diberi gelombang radio lewat suatu ponsel untuk disampaikan kepada bagian penerima soal yang nantinya akan dikerjakan oleh penerima tersebut.

Ketika soal sudah diterima, si penerima langsung mengirim balik jawaban ke pengirim soal. Hebatnya lagi, terdapat pembahasan lisan melalui _earphone _yang dapat didengar oleh pengirim soal.

Di Negara China pendidikan memang sangat diutamakan, oleh karena itu para orang tua tak sayang memasukkan anak mereka ke sekolah yang terakreditasi baik walaupun harus menempuh jarak yang sangat jauh dan biaya yang mahal.

Sehingga, ketika mendapat nilai jelek atau gagal ujian merupakan hal yang sangat menyakitkan dan akan mendapatkan hukuman yang berat.

Tetapi terlepas dari itu semua, budaya curang untuk mendapatkan nilai yang tinggi adalah hal yang sangat kompleks permasalahannya. Oleh karena itu, Homework Hero menulis artikel ini untuk mengulas beberapa hal yang menyangkut dengan budaya curang tersebut.

1. Penyebab budaya curang dalam ujian

Kecurangan dalam ujian di dunia pendidikan tidak akan pernah bisa hilang apabila masyarakat masih menjadikan nilai-nilai sebagai indikator untuk meraih karir atau jenjang pendidikan selanjutnya. Hal tersebut menyebabkan orang tua menuntut sang anak untuk mendapatkan nilai akademis yang tinggi, dan guru fokus hanya pada prestasi-prestasi akademis, nilai ujian, NEM, dari pada kemampuan non-akademik siswa yang mungkin lebih berpotensi apabila dikembangkan secara terus-menerus.

Akibatnya, para siswa memandang bahwa nilai lebih dibutuhkan dari pada pemahaman mengenai bidang pelajaran yang dipelajarinya sehingga para siswa seolah mendapatkan tekanan sementara ia belum mengerti bidang pelajaran yang dipelajarinya, tetapi harus mendapatkan nilai tinggi karena tuntutan guru dan orang tua. Pada akhirnya para siswa buta akan bahayanya menggunakan aksi curang dalam ujian.

2. Akibat budaya curang

Berbicara soal akibat dari budaya curang tersebut, hal yang langsung terpikirkan oleh kita adalah diambil lembar jawabannya oleh pengawas, dilaporkan ke BK, mendapatkan nilai nol, dipanggil orang tua, dan bahkan lebih parahnya lagi bisa dikeluarkan dari sekolah. Tapi, sesadis apapun akibat atau hukumannya, tetap saja aksi curang tetap saja marak terjadi di dunia pendidikan.

Akibat dari budaya curang tersebut belum sangat terasa dalam jangka waktu yang pendek. Namun, membiasakan diri berbuat curang saat ujian dapat dirasakan bahayanya dalam jangka waktu panjang.

Pepatah mengatakan, “Siapa yang menanam, dia akan menuai hasilnya kelak.”

Nah, sudah terbukti kan? Apabila kita membiasakan diri berbuat hal yang jelek, hasil dari apa yang kita perbuat pun kelak akan jelek. Jika kita terbiasa berbuat curang, kebiasaan tersebut secara perlahan akan membentuk kepribadian diri kita.

Hal tersebut tak hanya terjadi saat kita masih sekolah saja, misalnya saat SBMPTN kita yang terbiasa menyontek tak bisa lagi melakukan hal tersebut, dan seharusnya kita sudah mempersiapkan matang-matang materi SBMPTN sejak kita duduk di bangku SMA. Pada akhirnya apa hasil yang kita dapat? Kita tidak bisa lolos ujian dengan fair karena kita terbiasa menyontek dan enggan mempelajari pelajaran.

Selain di dunia sekolah dan universitas, di dunia pekerjaan budaya curang juga memberikan dampak yang sangat buruk bagi kita. Karena akar dari budaya curang adalah ketidakjujuran, dan nilai ketidakjujuran tersebutlah yang akan tertanam sampai kita tua nanti. Misalnya korupsi, awal dari korupsi adalah kebohongan kita akan penggunaan uang-uang yang kita pertanggungjawabkan. Kalau kita ketahuan korupsi, kita akan dipecat dari pekerjaan, dan lebih parahnya bisa sampai tindak pidana.

Jadi, budaya curang bukan masalah untuk nilai akademik saja, namun juga akan menanyakan nilai-nilai tidak baik menjadi kebiasaan yang nantinya akan menjadi masalah di kemudian hari. Dan pada akhirnya, berlaku jujur bukan untuk kepentingan siapa-siapa, ini untuk kepentingan diri kita seberapa mampu kita memahami suatu ilmu tersebut.